Tamu Kita: Ananda Sukarlan

Tamu kita kali ini adalah seorang musisi besar kebanggaan bangsa Indonesia yang bernama Ananda Sukarlan. Sepertinya tidaklah cukup bila saya mesti menjelaskan siapakah seorang Ananda Sukarlan itu? dan mungkin ada baiknya kita melihat profil Ananda Sukarlan dibagian bawah posting ini.Ananda Sukarlan telah bersedia untuk membagi ilmu nya sekaligus juga ia ingin mendapatkan masukkan-masukkan dan pengetahuan dari teman-teman di Yahoo! Answers. Oleh karena itu simaklah pertanyaan-pertanyaan yang akan Ananda tanyakan di Yahoo! Answers, dan juga siapkan pertanyaan-pertanyaan yang ingin kalian tanyakan pada Ananda tentunya yang berkaitan dengan keahlian nya dalam bidang musik, khususnya musik klasik.Ananda akan menjadi tamu kita selama 1 bulan penuh dan ia akan menyiapkan waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman disini sekaligus juga setiap minggunya ia akan melontarkan satu buah pertanyaan.Update dari Ananda:Penanya terbaik yang dipilih oleh Ananda akan mendapat 2 tiket gratis ke New Year Concert di Jakarta, 4 Januari 2009. Pemenangnya akan dipilih oleh Ananda setelah sesi Tanya-Jawab Ananda Sukarlan di Yahoo! Answers berakhir dan akan dikirimkan email. Ingat…PENANYA bukan PENJAWAB, jadi dipersilahkan teman-teman di sini bertanya tentang musik pada umumnya dan khususnya musik klasikPertanyaan dari Ananda:

  1.  Apa benar harus dalam menciptakan musik dibutuhkan inspirasi? Apa sih inspirasi itu sebenarnya? (20 Oktober 2008) – telah selesai
    • Tambahan dari Ananda untuk melengkapi jawaban terbaik yang terpilih:
      • Kalau menurut saya, inspirasi itu bisa dijelaskan dengan tiga kata: Tau-tau-tau. Jadi seperti intuisi. Kita tidak tau kenapa satu hal bisa “menginspirasi” kita. Tapi inspirasi itu hanya bisa diibaratkan seperti korek api saja: kalau tidak ada gas atau bensinnya, ya apinya akan langsung padam!Nah, disinilah mulai “ruwet”nya: cara menulis musik. Inspirasi itu hanyalah sebuah material, dan kita harus mengembangkannya. Caranya? Ya dengan mempelajari cara mengembangkannya. Itu membutuhkan teknik dan pengetahuan. Pengetahuan struktur yang macam-macam, dan juga instrumennya itu sendiri. Tidak perlu bisa main instrumen tsb, tapi harus tahu mekanisme dan teknik-teknik permainannya secara teoritis.Untuk membuat satu lagu yang sederhana saja memang tidak perlu mengembangkannya, tapi jika ingin membuat musik simfonik atau musik untuk instrumen solo atau gabungan, ya terpaksa harus belajar teknik-teknik komposisi!Dari mana datangnya inspirasi?  Wah, I wish I knew! Memang kalau sudah “berpengalaman”, inspirasi itu bisa “dicari”. Tiap komponis terinspirasi oleh lain hal ; saya selalu terinspirasi oleh karya orang lain, misalnya oleh puisi (antara lain dari Sapardi Djoko Damono dan Eka Budianta) atau gerakan-gerakan koreografis (terutama dari Chendra Panatan yang karyanya sangat saya kagumi dan  sering kolaborasi dengan saya).  Jadi ya bawa saja buku puisi mereka kemana-mana, atau main saja ke rumah Chendra (atau nonton tariannya di youtube, yang 4 atau 5 tahun yang lalu tidak memungkinkan, kan?) kalau sedang butuh inspirasi!Saat ini baru saja selesaikan karya terbesar saya, sebuah opera berdurasi 1,5 jam berdasarkan naskah drama dari Seno Gumira Ajidarma, berjudul “Mengapa Kau Culik Anak Kami”. Jadi, yang bisa memberi inspirasi bukan hanya puisi tapi juga sebuah naskah, dan juga hal2 yg lain misalnya lukisan. Karya musik ballet saya yang baru untuk 3 piano 12 tangan (ternyata sepanjang sejarah belum pernah ada karya asli ditulis untuk formasi ini!), “Schumann’s Psychosis” itu justru inspirasi pertamanya adalah dari lukisan oleh Asep Berlian, tapi jadinya “nyeleweng” ke kasus psikologisnya komponis Schumann dan juga metode koreografis dan tarian Chendra Panatan. Jadi anda bisa lihat bahwa “produk akhirnya” itu kadang-kadang tidak perlu “setia” dengan inspirasi awalnya.Saya sendiri tidak tahu (mungkin ya ini yang namanya “takdir”, dan saya bersyukur dengan hal ini!) kenapa karya-karya saya lebih banyak untuk vokal dan sedikit sekali untuk piano solo. Pasti ada hubungannya dengan tidak adanya hal yang menginspirasi saya secara pianistik, atau belum ada pianis yang benar-benar menginspirasi saya.
  2. Kenapa sih seni, khususnya musik, itu penting? (27 Oktober 2008) – telah selesai
    • Tambahan dari Ananda untuk melengkapi jawaban terbaik yang terpilih:
      • Saya selalu mengacu ke Shakespeare yg mengatakan bhw “music is heightened speech”. Suatu ekspresi yg lebih tinggi daripada ucapan/kata-kata. Nah, Shakespeare sendiri bilang bahwa speech and language was invented by men to woo women. Untuk merayu wanita! Jadi bukan untuk komunikasi. Atau, kebutuhan komunikasi itu didasarkan kebutuhan untuk merayu. Tapi ya dasar manusia, semua dibikin runyam. Bahasa tambah lama tambah kompleks. Tapi, saya selalu percaya bahwa pada dasarnya fungsinya yang paling dasar masih sama, yaitu “merayu”. Bukan hanya untuk segala yang berhubungan dengan cinta, tapi juga misalnya merayu untuk mendapatkan suara (para politikus), untuk disenangi oleh atasan (pegawai ke boss-nya), untuk hubungan sesama (guru-murid, orang tua-anak … dan semata-mata merayu untuk berteman biasa).
  3. Apakah memang perlu bisa baca not balok untuk menjadi komponis? (03 November 2008) – telah selesai
    • Tambahan dari Ananda untuk melengkapi jawaban terbaik yang terpilih:
      • Terus terang, saya kagum dgn Ismail Marzuki, dan juga dengan penulis-penulis lagu lain seperti Irving Berlin bahkan Lionel Bart yg menulis, menurut saya, musical theatre yg paling hebat, “Oliver” . Soalnya kalau saya dapat “inspirasi” berupa melodi atau harmoni, harus langsung saya tulis, kalau tidak, dijamin 1 jam kemudian lupa !  Memang tidak perlu bisa membaca not balok kalau mau membuat lagu2 yang pendek … tapi anda harus ingat, lagu2 mereka kemudian harus di “elaborasi” oleh orang-orang yang bisa baca not. Yang mereka ciptakan adalah melodi-melodinya saja. Contohnya, rekaman saya bersama soprano Binu Sukaman “Tembang Puitik Indonesia” dengan lagu-lagu Mochtar Embut, Trisutji Kamal, saya sendiri dan Ismail Marzuki. Lagu-lagu itu semuanya sudah komplet, tertulis dengan harmoninya, iringan pianonya dan semua ritme dan temponya yang persis diinginkan oleh komponisnya. Tapi khusus lagu-lagunya Ismail Marzuki itu harus diaransemen oleh saya, dan sayalah yang menentukan harmoninya, teksturnya dll. Tanpa aransemen itu, Binu hanya akan menyanyi lagu2 Ismail Marzuki sendiri mendayu-dayu tanpa harmoni dan iringan ! Memang sudah sangat indah, tapi tentu tidak cukup kan ?

  4. Apakah sebuah komposisi akan lebih bagus jika dimainkan oleh komponisnya sendiri? Bagaimana pendapat anda? (10 November 2008)

Profil Ananda Sukarlan:Saat ini Ananda Sukarlan dikenal sebagai pianis,komponis, pendidik, penulis dan aktivis kebudayaan Indonesia. Sebagai pianis, ia telah memenangkan banyak kompetisi internasional di masa mudanya, yang membawanya ke karir musik internasional yang gemilang. Ia adalah pemegang rekor MURI sebagai pianis Indonesia yang memberi pagelaran di negara terbanyak (di 5 benua). Sampai saat ini ia telah memperdanakan lebih dari 300 karya baru yang ditulis khusus untuknya oleh komponis-komponis terkemuka duniaSebagai komponis, karyanya telah banyak dipagelarkan di benua Amerika dan Eropah.  Ia telah mencipta beberapa karya besar, dan saat ini ia sedang menulis karya asli pertama di dunia untuk 3 piano 12 tangan, untuk dimainkan oleh 3 piano Steinway dari Jerman, antara lain di New Year Concerts di Jakarta dan Jogja Januari 2009 nanti. Sebagai seorang komponis yang produktif, karyanya mencakup hampir semua instrumen, termasuk kolaborasi tetapnya dengan koreografer Chendra Panatan yang banyak membuahkan karya tari yang baru. Karya nya yang terbanyak adalah karya untuk vokal yang saat ini berjumlah lebih dari 80 lagu.  Musiknya telah banyak ditulis sebagai bahan desertasi dan tesis doktoral di beberapa universitas di 3 benua.Sebagai pembicara ia telah banyak diundang untuk mengajar atau memberi ceramah, antara lain di Middlesex University (London), Edinburgh University, Griffith University (Queensland), Sydney Conservatory of Music, Maastricht Conservatory of Music, Monterrey Conservatory (Mexico) dan banyak konservatorium di Spanyol.Sebagai penulis, ia sering diminta menulis artikel mengenai musik di berbagai majalah budaya di Spanyol dan Australia. Ia juga menulis di blognya yang sangat populer, http://andystarblogger.blogspot.com , dan memiliki group diskusi musik klasik yang beranggotakan paling banyak di Indonesia, “Ananda Sukarlan’s friends” di facebook. Website resminya adalah www.anandasukarlan.com