Indonesia Memilih !

foto: arikstress
Hari ini, tanggal 8 July 2009, Indonesia menggunakan haknya untuk menentukan siapakah yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan negara ini untuk satu periode kedepan. Usai sudah masa kampanye, usai sudah masa janji-janji, setelah ini calon yang terpilih harus membuktikan apa yang telah mereka janjikan kepada rakyat Indonesia. Semua calon menjanjikan perbaikan dan kemajuan bagi, dan sudah jadi kewajiban buat kita semua untuk bersama-sama bukan saja ikut mengawasi tapi juga mendukung siapapun Presiden dan Wakil Presiden terpilih.
Indonesia bisa disebut negara paling demokrasi di dunia kalau merujuk dalam hal Pemilu. Kenapa demikian? Bila kita bandingkan dengan Amerika Serikat yang mengaku sebagai negara pengusung demokrasi, dalam hal pemilu, angkat partisipasi masyarakat untuk ikut voting (nyontreng) hanya berkisar 10%-15% dari seluruh jumlah masyarakat Amerika Serikat, dan di Indonesia ini berbanding terbalik. Rakyat berbondong-bondong datang ke TPS untuk memberikan suaranya. Mereka ingin ikut serta menentukan siapa yang akan jadi pemimpin kita nantinya. Dan ini adalah sesuatu yang bisa dibanggakan tentunya.
Selama masa Pilpres ini kita sudah melewati banyak sekali hal-hal yang tentunya meninggalkan kesan, apakah itu baik maupun buruk. Anda bisa memberikan kesan-kesan anda tentang penyelenggaraan Pilpres 2009 dengan menjawab pertanyaan ini.
Semoga semuanya berlangsung lancar.
If you enjoyed this post, make sure you subscribe to my RSS feed!

Alhamdulillah sukses, yang khawatir (DPT)mememang terjadi krna ketakutan para tim sukses yang sangggaaaat tidak beralasan, para pakar yang sok pinter ngomong memanas-manasi situasi (kl dekat dgn gue gue embat mereka), meremehkan kerja KPU yg nyata2 bekerja keras demi bangsa, dan demi suksesnya memilih kepala negara, sampe2 para Capres dan Cawapres Protes tes tes (Nga tau malu), Rakyat sudah capek ngak mau ribet sudah kebelet yg penting nga dibikin mumet, Berita TV yg menambah-2i, memlintir omongan yg memang nga pernah seimbang dengan kenyataan, TV Swasta nga pernah memberikan yang terbaik untuk bangsa (hanya mencari keuntungan sendiri), mereka mencari berita yg isinya selalu menyalahkan Pemerintah nga seperti TVRI selalu memberi motifasi kepada Masyarakat, Pemerintah selalu dianggap nga pernah berbuat baik, kalo ada kesalahan nga dicari solusinya hanya menyalahkan saja harusnya Ijin untuk TV Swasta dibatasi saja, tayangan TV Swasta amburadul nga banyak yg mendidik,
M0ga2 k0ndisi selanjutnya aman2 saja..kalah ato menang sama sama terh0rmat kog
gag da yg perlu d ributkan
jadi yang nantinya kalah harusnya menerima dengan lapang dada..
Siapapun yang menang ayo kita support,karna merupakan aspirasi suara mayoritas masyarakat indonesia
berbagi renungan,m0tivasi,solusi hidup di http://rahasia-masa-depan.blogspot.com
wah.. bener salut buat om gizmo
Pemerintah yang seharusnya dihormati malah dipojokkan. Pemimpin yang seharusnya diteladani malah perlu mencari teladan. Namanya juga indonesia, belum Indonesia, apalagi INDONESIA. Jadi, jangan pernah mimpi untuk mencapai INDONESIA RAYA.
Semoga Pilpres kali ini cukup satu putaran saja agar tidak menghabiskan waktu, tenaga, dan dana. Presiden yang terpilih semoga dapat melanjutkan pembangunan menuju masyarakat adil dan makmur. Ada semboyan “BERSAMA KITA BISA”.
Pilpres secara keseluruhan berjalan sukses, kalau ada beberapa kecurangan itu hanya beberapa gelintir orang saja dibandingkan dg jmlh pemilih yg sekian juta orang. Saya hanya berpesan kpd Yth. para Capres/Cawapres, para Caleg yg tdk terpilih utk legowo, tdk mbuat statment-2 yg mbuat rakyat bingung, beri contoh kami rakyat kecil seperti saya ini pembelajaran Demokrasi yg baik, kami hanya ingin hidup tenang, aman, bisa bekerja dengan baik.
Siapapun pemenang pada Pilpres 2009 ini adalah kemanangan rakyat. Disinilah menunjukkan bahwa Rakyat kita memang betul-betul berdaulat. Pengaruh Partai Politik ,Ormas-Ormas keagamaan, sudah tidak lagi signifikan. Karena semuanya sulit dipegang kebenarannya. Jadi saat ini rakyat memilih bukan lagi dengan hati nurani tetapi dengan betul-betul sudah menggunakan logika, pendekatan-pendekatan budaya, agama semakin ditinggalkan. pendekatannya adalah apa yang mereka rasakan sekarang dan apa yang akan mereka rasakan nanti. Kebobrokan masa kampanye dengan saling memojokkan pihak-pihak tertentu dalam rangka menarik simpati justru membuat rakyat muak, apalagi jika menjelek-jelekkan pemerintahan yang masih berlangsung sementara yang bersangkutan ada didalamnya semakin menunjukkan kemunafikan berpolitik. Persoalan DPT , sistem PEMILU yang kisruh memang masih merupakan PR kedepan. Sebaiknya KPU yang ada sekarang dibubarkan, Ketuanya diminta pertanggung jawaban dihadapan Hukum. KPU kedepan harus KPU yang Pro-Aktif, bergerak cepat dan Akomodatif. Jika ada UU yang ketinggalan zaman segera lakukan perbaikan/amandemen. Jangan baru bergerak menjelang menit-menit terakhir itu blunder namanya.
Negara ini harus semakin Demokratis tetapi jangan sampai kebablasan.
Alhamdulillah Pemilu berjalan sukses dan benar-benar LUBER, Insya Allah harapan seluruh rakyat Indonesia akan terkabul menjadi masyarakat yang madani yang adil, makmur dan sentosa yang sangat di idam-idamkan oleh seluruh rakyat Indonesia, namun yang di sayangkan saat ini Rakyat Indonesia belum memiliki rasa idealisme dan nasionalisme yang tinggi dalam menyikapi penyontrengan Pilpres tsb dan kesannya hanya menjadi masyarakat yg ikut-ikutan (klobotisme) tanpa adanya hati nurani yang mantap atas pilihannya. Kita sadari bahwa hari kemarin adalah mimpi, hari ini adalah kenyataan hidup dan esok hari adalah harapan. Kalau kita melihat ke pelosok negri di pedesaan betapa masih banyaknya rakyat miskin yang masih memerlukan sesuap nasi dan mengais rejeki dalam kehidupannya sehari-hari, dan kehidupan ini berbeda 360 derajat dibandingkan kaum elite yg tinggal di jakarta yaitu kaum borjuis yg hidupnya hari demi hari hanya dari mall ke mall, yg tdk peduli dng kehidupan rakyat di pedesaan. Namun dengan adanya Pilpres ini, kita menaruh harapan besar dengan Para Capres dan Cawapres terpilih utk lebih fokus thd kehidupan di pedesaan yg utk mencari rejeki sebesar 10.000 s.d 20.000 per hari harus bekerja keras utk mendapatkannya. Saya pribadi telah melaksanakan penyontrengan sesuai hati nurani yang masih memiliki rasa idealisme dan nasionalisme yang tinggi namun Allah berkehendak lain dengan lebih memilih yang terbaik dalam memimpin negri ini. Mudah-mudahan harapan seluruh rakyat Indonesia yang notabene suara rakyat adalah suara Tuhan dapat terkabul utk mencapai masyarakat yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi. Semoga Pres dan Wapres terpilih mengemban amanah rakyat yg saat ini murni merupakan suara Tuhan dan bukan merupakan Pemimpin yang munafik. Selamat Pak SBY dan Budiono
Saya seneng aja SBY-Budiono menang, semoga capres yang lain legowo, dan tidak bertindak macem-macem, toh…….ini juga untuk kita, masyarakat Indonesia. Kita hanya pengen negara ini aman, sejahtera, tidak ada gangguan, dan lebih dewasa.
Yang menang harus bertanggungjawab n mempejuangkan nasib bangsa dan rakyatnya, buat yang kalah harus menerima dengan bebesar hati n mendukung yang menang untuk kepentingan bangsa dan negara….
“MERDEKA”
kamu ngomng seperti itu karna pendukung sby iya kan?aku sebagai penengah……….paling kamu jdi guru ……..yg di naikkan gaji nya sehingga kamu menjelek2kan pasangn capres cawapres yg lain.hehehehe kasian deh LOOOOOOOOOOO
?
oke banget deh pilpres di indo sekarang ini, demokrasi abisss, pokoknya kalau ada capres yang kalah lalu ga nerima dan cas cis cus cari kambing itam wah berarti dia yang berpikiran sempit dan berhati picik, kalau rakyat milih SBY, berarti SBY lah yang terbaik, harusnya yang kalah nerima dengan lapang dada dan berikan ucapan selamat untuk yang menang, karena bangsa ini bangsa kita, indonesia ini indonesia kita, baiknya indonesia baiklah kita dan buruknya indonesia buruklah kita, semua kita harus mendukung pemerintahan yang menang, karena untuk kita juga, semoga pak SBY-budiono, bisa membawa indonesia 5 tahun kedepan lebih baik dari yang sekarang ini, amiiiiiiin..
Ini yg perlu disadari oleh Candidat yg belum berhasil, cobalah instropeksi dan berbenah apa dan siapa yg salah dalam dirinya dan lingkungannya. Next,…kalau mau sukses , tatalah Performanya, Tingkatkan kemampuan Inteletualitas personal maupun Tim kerjanya, berkacalah bahwa inilah yg dinginkan rakyat dg pilihannya, jd jgnlah jd orang yg tidak LEGOWO dan selalu berburuk tuduh dan sak wasangka.Bahwa dr ke 3 candidat yg baik, maka rakyat telah memilih yg terbaik dari antara ke 3-nya.Karena baik buruknya, bukan dirinya sendiri menentukan,tapi masyarakat,yg tdk lagi bodoh yg bisa diselipin janji,umpeti.
Saya seperti menonton pertandingan sepak bola yang mana ada suatu tim melakukan protes sementara wasit, panitia pertandingan dan sebagian besar penonton malah memojokkan tim tsb berikut dgn semua pendukungnya.
Ketika pemenang pertandingan itu memboyong trophy kejuaraan ke markasnya hati saya bertanya, ” Apakah lain waktu mereka akan merebut trophy besar maupun kecil dgn hati nurani yg sama ? “.
Alhamdulillah. Pilpres berjalan dengan aman smga akan membawa hikmah dalam gelar demokrasi. Kalah menang adalah terhormat selama berjalan pada aturan hukum. Semoga kemenangan melanjutkan program yang belum tuntas dan harapan rakyat lebih aman sejahtera. Lanjutkan !!
itulah INDONESIA RAYA. rakyatnya sudah kebanyakan nonton sinetron, jadi mencari presiden pun harus yang selalu berperan protagonis, jika ada tokoh yang sedikit agak antagonis dan menyerang langsung tidak bisa diterima pemirsa (perannya jahat gitu looo). jadi pemilih di Indonesia memang sangaaaaat emosional karena tokoh kesayangannya disakiti. jadi bersiap-siaplah indonesai menerima episode sinetron yang lebih haru biru dimasa yang akan datang. semuanya akan bertele-tele seperti telenovela. cape’ deeehh!!!……
Selamat untuk lancarnya Pilpres di Indonesia. Segala sesuatu tdk ada yg sempurna, kekurangan dan kelebihan dlm pelaksanaan Pilpres, itu manusiawi. Ada yg kalah dan yang menang itu wajar. Kita sebagai rakyat Indonesia mari bersama-sama membangun negara ini menjadi lebih baik lagi. Amin.
Ketiga pasang capres dan cawapres adalah putra-putri ter baik bangsa. Jika ada kesalahan dalam DPT dan pelaksanaan Pemilu di 2009. Kesalahan tersebut jangan terlalu di besar besarkan – Menurut saya sosok pimpinan yang baik adalah pemimpin yang mempermudah urusan, bukan yang mempersulit.
Tentu kesalahan DPT tidak di inginkan oleh KPU, karena akan menjadi bumerang bagi KPU itu sendiri. Capres dan Cawapres tentu tidak mau tim suksesnya melakukan pelanggaran, kalaupun terjadi pelanggaran itu adalah kelalaian person dari tim sukses.
Protes untuk mengkritisi pelaksanaan pemilu, sah sah saja di utarakan bahkan di anjurkan bagi setiap masyarakat Indonesia untuk membuka hal hal yang kurang baik, untuk kemudian di perbaiki — agar kedepan kita bisa lebih baik –. Untuk itulah dalam suatu Negara di perlukan kelompok oposisi. Kelompok oposisi yang selalu mengkritisi kebijakan yang salah dan mengawal kebijakan yang benar agar tepat sasaran.
Dalam demokrasi, menurut pendapat saya tidak ada yang kalah. Yang ada adalah kemenangan rakyat, pesta rakyat — Sepanjang Pemilu di laksanakan secara Jujur, Adil, Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia.
Yang belum terpilih, jadilah oposisi yang baik. Yang terpilih, laksanakan amanah dengan penuh tanggungjawab.
Maju terus Indonesia
Pesta Rakyat sudah usai.Rakyat sudah menentukan pilihannya.Entah kau suka,atau kau tak suka.Semua harus mau terima kenyataan.Inilah Demokrasi ala Indonesia.Bagi SBY-BUDIONO saya ucapkan selamat.Bagi Mega-Prabowo dan JK-Win saya juga mengucapkan selamat,walaupun anda tidak menang,tidak masalah.anda-anda tetap adalah Putra Bangsa Terbaik yang akan dikenang.Kecuali anda sendiri mau mencoreng diri anda sendiri dengan bertingkah yang tidak pantas.Selamat,Selamat,dan sekali lagi Selamat untuk seluruh RAKYAT INDONESIA.
alhamdulilah pemilu kali ini lncar walaupun msih ada masalah tentang dpt dan masih ada yg mempermasalahkan hal itu. sampai dengar kabar sudah menyiapkan gugatan. mudah2an gugatan itu gak dikabulkan agar tidak menambah pekerjaan mk lagi dan pemerintahan yang baru segera terwujud dengan lebih baik. amin
Kalau dengar di TV sih, banyak masalah…. dan masih jauh dari Demokratis. Yah…kita lihat ajalah bagaimana hasil pemerintahannya nanti.
DPT pilpres 2009 dibuka KPU sekitar 36 jam sebelum pencontrengan padahal menurut UU mestinya itu dilakukan sebulan sebelumnya. Dibukanya DPT tsb juga setelah mendapat keputusan dari MK karena dua pasangan capres cawapres memintanya.
Ketika kemudian memang terbukti ada nama fiktif dan ada pula yg terdaftar berulangkali dalam DPT tadi, hati kecilku bertanya, ” Mengapa lebih dari 100 juta jiwa saudaraku setanah air tidak melihat kenyataan ini ? “.
Meski pilpres berlangsung aman, dan Pak SBY mendapat amanat dari rakyat untuk memimpin negeri ini 5 tahun ke depan, tetapi saya kecewa karena masih sangat banyak terjadi kecurangan. Kita tidak boleh menutup mata terhadap kecurangan ini, karena saya menilai kecurangan pemilu yang terjadi seperti telah didesain dan direncanakan dengan sangat matang sehingga meskipun terlihat tetapi tidak akan dapat terjamah oleh hukum.
Saya berpendapat Pak SBY dengan ada atau tidak adanya kecurangan tetap akan keluar sebagai pemenang, tetapi saya tidak rela kalau proses demokrasi ini menjadi tidak bermartabat karena adanya kecurangan yang saya nilai “sangat canggih”. Saya kuatir kecurangan ini adalah campur tangan asing yang tidak kita sadari, yang tidak ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang pintar. Dan siapapu yang telah mendesain dan melakukan kecurangan, akan memiliki akses untuk mengatur pemerintahan yang terbentuk sebagai “balas budi”
Saya yakin Pak SBY bukan tipe orang yang mau main curang, dan saya yakin beliau sangat mencintai Indonesia dan mendambakan dapat membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat dan dihormati bangsa-bangsa lain. Oleh sebab itu saya sangat berharap justru Pak SBY lah yang menjadi pelopor terdepan untuk membongkar kasus kecurangan pemilu sampai tuntas, bukan mereka yang “kalah” dalam pilpres kemarin.
Selamat kepada seluruh Rakyat Indonesia yang telah melaksanakan Pilpres dengan aman dan lancar. Khusus untuk 40% Rakyat Indonesia yang salah pilih, semoga segera kembali ke jalan yang benar, amien.
semoga yg menang bisa memperjuangkan nasib rakyat
seperti saya.
bagi saya siapa yg menang sama saja yg penting harus bisa memperjuangkan
semua nasib rakyat, bukan nasib pendukungnya.
kya@ pmilu skarang makin g teratur. bnyak terjadi pnyimpangan dlm pilpres baik dlm pendaftaran pemilih, pelaksanaan kampanye maupun saat pencontrengan. kapan indonesia bisa lebih maju.
mudah2an presiden yg baru tdk salah dlm memilih mentri yg akan duduk di kabinet mendatang
Sulit rasanya yang mau menerima kekalahannya.
Jangankan perebutan kursi presiden berebut bola aja, yang kalah tak mau terima (tuh kayak BONEK).
KAPAN BANGSA INI PUNYA BUDAYA TERIMA KEKALAHAN ………………..?????????????
Sejarah akan menjawabnya nanti.
belum selesai tugas anak bangsa masih harus mempersiapkan generasi selanjutnya yang tetap mengerti tentang negri ini dan melanjutkan perjuangan pendiri dengan tetap berpegang teguh pada PANCASILA dan UUD’45 bukan terus mengadopsi atura, paham dan sebagainya negara lain. ibu pertiwi telah mewariskan tanah air ini yang subur lahjinawe, jangan buat rakyat kecil menangis dan tertindas.
ingat Alloh memberikan negri ini sama dengan yang lain ada siang malam, kaya miskin, pintar bodoh dan sebagainya. pemenang menjadi pemimpin tolong buatlah perbedaan itu bisa dinikmati semua rakyat, berdiri tegas menggandeng perbedaan kehidupan manusia. SELAMAT
Ribut masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap) sebenarnya bukan terjadi di Pileg dan Pilpres 2009 ini saja. Ibarat masalah klasik yang memang sulit dicari solusinya, kisruh data pemilih ini sudah jadi langganan hampir di setiap Pemilu di daerah-daerah yang kita sebut Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah).
Tentu kita masih ingat Pilkada DKI Jakarta 2007. Saat itu ratusan kader PKS (Partai Keadilan Sejahtera) menduduki gedung KPUD DKI Jakarta. Hampir tiap hari para demonstran berjejalan menuntut hak pilih mereka dipenuhi.
Namun apa yang dilakukan PKS ini berbeda dengan apa yang terjadi di Pilpres 2009 ini. Karena PKS melakukannya jauh-jauh hari sebelum Hari Pemungutan Suara diselenggarakan, sementara di Pilpres 2009 ini, tuntutan perbaikan DPT oleh Tim Sukses Capres-Cawapres justru terjadi 2-3 hari menjelang Pemungutan Suara. Isu yang diangkat sama, tapi (boleh jadi) motifnya berbeda.
Tuntutannya pun kala itu berbeda. PKS menuntut perpanjangan masa pendaftaran pemilih, sementara Tim Sukses Mega-Prabowo dan JK-Wiranto menuntut pengunduran Hari Pemungutan Suara.
Memang banyak warga yang kehilangan hak pilihnya pada Pemilu 2009 yang dilaksanakan bulan April yang lalu, termasuk dalam beberapa Pilkada sebelumnya. Keributan terjadi di beberapa TPS. Bahkan sampai Mahkamah Konstitusi. Tapi untuk Pilpres 2009, KPU berusaha membenahinya. DPT untuk Pilpres 2009 diperbaiki, iklan diluncurkan, pengumuman dipasang, tenggat waktu pendaftaran pemilih diperpanjang. Namun aneh, saat itu tak ada hiruk pikuk Tim Sukses yang mempertanyakan dan meneliti DPT, termasuk DPS (Daftar Pemilih Sementara) dan DPSHP (Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan). Apakah terlambat atau kesiangan menjadi pahlawan?
Baru menjelang Hari Pemungutan Suara, kasus DPT diangkat. Dan dipakai sebagai senjata untuk menunda Jadwal Pemungutan Suara. Alasannya, banyak warga yang memiliki hak pilih tak masuk DPT, adanya DPT fiktif, ada anak-anak dibawah umur dan anggota TNI/Polri yang masuk DPT, padahal mereka tidak memiliki hak suara dalam pemilu, seperti diamanatkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu.
Maka dari itu Pemilu harus diundur. Banyak cacat dalam penyelenggaraan Pemilu 2009. Ini baru sekedar membahas masalah warga yang kehilangan hak pilihnya karena tidak terdaftar dalam DPT. Belum lagi wacana tentang banyaknya TKW yang tidak bisa mencontreng karena bekerja di rumah-rumah pengguna jasa (majikan) yang tidak memperbolehkan mereka meninggalkan rumah tanpa diantar/didampingi majikan. Atau TKW yang bekerja di berbagai perusahaan, hotel, restoran, mal, penerbangan, kantor dan tempat-tempat usaha lainnya yang lokasinya jauh (di kota-kota atau di propinsi-propinsi lain) yang belum tentu diberi izin pada saat jam kerja untuk meninggalkan pekerjaan mereka dan datang ke TPS.
Itu memang masalah. Namun isu memundurkan Hari Pemilu, patut dicermati dari sudut pandang lain. Apalagi kemudian berkembang opini untuk tidak perlu mengakui hasil Pemilu. Dengan kata lain, tidak mengakui kekalahan dalam Pemilu. Tentu ini bukan sikap ksatria seorang Pemimpin Bangsa. Karena sesungguhnya dalam sebuah pertarungan hanya ada dua kemungkinan, menang atau kalah.
Pertarungan politik dalam gelanggang Pemilu terkadang identik dengan sebuah pertandingan Olahraga. Dalam olahraga tinju, selama pertandingan dari ronde ke ronde, petinju yang banyak mengumpulkan angka dan memasukan pukulannya tepat diwajah lawannya akan berpeluang besar meng.K.O lawannya. Demikian juga dalam pertandingan bola volley atau bulutangkis, pemain yang sudah memimpin angka punya kans untuk memenangkan pertandingan.
Maka dari itu, pemain yang sedang ketinggalan angka dalam pertandingan bola volley atau bulutangkis, akan meminta Time-Out untuk berhenti sejenak dan merancang strategi sehingga dapat keluar dari keadaan tertekan. Atau petinju yang sedang sempoyongan akan selalu berusaha menghindar, atau bahkan merangkul lawannya agar ronde segera berakhir dan nafas bisa diatur kembali. Intinya, minta perpanjangan waktu.
Namun bedanya, kalau dalam pertandingan olahraga semua penonton termasuk pemain dapat mengetahui berapa skor ketika pertandingan sedang berjalan. Tapi pada pertarungan Pemilu, hanya Tim Sukses saja yang tahu berapa besar ketinggalan suara dari lawan politiknya (lewat survey dan penelitian yang mereka lakukan). Rakyat sebagai penontonnya tentu tidak paham.
Oleh karena itulah, strategi pemain dan pelatih olahraga ketika minta Time-out dapat diketahui penonton, tapi strategi Tim Sukses ketika minta perpanjangan waktu Pemilu dan memundurkan jadwal pemungutan suara dengan alasan DPT, ini sulit diterka. Apakah ini benar-benar murni ingin menciptakan Pemilu yang berkualitas, atau sekedar strategi karena sadar bahwa dirinya sedang sempoyongan.
Teman-teman…
Bagaimana pun hasil dari Pilpres 2009, namun yang terpenting kita patut mensyukuri karena sampai detik ini tetap aman dan tertib di setiap daerah di indonesia.
syukur karena pemilu berjalan tertib,seperti yang dikatakan pak SBY,kalaupun ada kecurangan 1,2 bisa diselesaikan menurut hukum yg berlaku,krn gak ada sesuatu yg sempurna,kita mengadakan pesta saja pasti ada yg kurang apalagi pemilu yg melibatkan jutaan orang di Indonesia.Bagi yang kalah seharusnya bisa berbesar hati,legowo menerima,karena saya sdh membuktikan sendiri,setiap orang yg bertemu saya hampir semua memilih pak SBY.saya adalah orang yg netral tp melihat realita sebelum pemilu saya sering bertanya memang sebagian besar masih mencintai bapak SBY krn BERKHARISMA DAN BIJAKSANA,LANJUTKAN!
duchhhhh indonesiaaaaaa
knp rakyat yg tinggal di negaramu semakin parahhhh ya??! PEMILU kmrin Ibarat kita mau masuk PNS,POLISI,JAKSA harus siap uang berpuluh2 juta utk msk,begitu sdh msk kita tdk bisa berbuat apa2 alias PNS dgn kualitas uang yg dipikirin bagaimana modal kembali! bagaimana mu + maju negara indonesia,kasiann bgt yg tinggal di indonesia,memilih pemimpin krn cassingnya,tp dalemnya who’s to know??!ntinya turut berduka atas demokrasi yg trjadi di indonesia
masalah DPT sepertinya menjadi titik lemah pelaksanaan pemilu, kenapa KPU tidak memberikan soft copy DPT kepada para peserta padahal UU mengamantkan 30 hari sebelum hari H DPT bisa dilihat oleh peserta pemilu, dan waktu softcopy diberikan pada saat H-1 dalam beberap jam saja sudah didaptkan 11 juta nama Ganda ini sih bukan kekurangan 1 atau 2 tetapi sudah berjuta2
saya sudah ikut pemilu 7 kali dan ini adalah pemilu paling amburadul dari sisi DPT
tadi saya iseng search artikel dan saya ketemu link ini http://politikana.com/baca/2009/07/05/utang-terbesar-ri-ada-di-5-tahun-terakhir-ini.html
sejak selama lima tahun terakhir ini utang kita menembus rekord
cukup baik,
Bagus walaupun ada kekeliruan DPT, tapi kan ada solusi yang dikasih. Masih ada yang ribut soal DPT? Karena mereka kalah aja, coba kalau mereka menang pasti diaaaaaaaaaam.
Saya yakin masalah DPT bukan disengaja apalagi dikomando, tapi akibat kebiasaan orang kita suka menganggap remeh sesuatu tanpa memikirkan akibat dalam jangka panjangnya. Contoh lain, liat kenapa sush menggusur perumahan kumuh, itu karena mengenggap remeh satu permasalahan. Kalau belum parah belum diobati. Kalau ada satu,dua tiga rumah yang bangun gubuk liar, didiamin, terus yang lain ikut2an, akhirnya menjamur. Setelah banyak baru digusur. Kan repoooooottttt.
pilpres merupakan penentu nasib bangsa kita dan siapun yang terpilih, harus bisa mengerti apa yang di butuhkan bangsa ini, bukan perut dong tentunya , (ingat rakyat masih banyak yang miskin)
Pelit dan Rumit Juga Politik Kebangsaan Kita tapi itu Negara, Bangsa, dan Pemerintah sefrta Elit Politik (Negarawan) kita bernar-benar menjunjung tinggi-tinggi Hak Denokrasi Pancasila. Agar Negara kita Indonesia Nomor Wahid di Dunia mengalahkan Demokrasi Nagara Soper Fower. tapi yang penting bagaimana nasib rakyat di pedesaan, tapi tak perlu hawatir rakyat tetap mendukung sepenuhnya. asalkan Negara RI tercinta ini tidak berceraia berai. Bersatulah Bangsangku.
Alhamdulillah, aman dan lancar. Cukuplah satu putaran saja. terlalu banyak biaya bila harus diulang. Masih banyak sektor lain yang membutuhkan. Buat Pak SBY, lanjutkan yang baik-baik saja, gantikan yang kurang menjadi lebih baik. Kami mau Indonesia jauh lebih baik lagi. Merdeka !
Yaah, dari semua pendapat diatas, kami menhimbau agar Marilah kita berjiwa Nasional dan rasionallah kita. pengalaman kami: tidak ada nama pada pilkada, dan pilleg. kemarin saat dibuka kesempatan untuk DPT kami langsung ke KPPS mendaftar, pada hal kami telah menjadi warga daerah setempat sejak 1978 dan pernah mengikuti pemilu periode diatas 1978 itu, herannya pada pilka dan pilihan Legislatip tidak ada nama. DPT pilpres setelah kami cek ulang ternyata ada muncul nama kami sebanyak 5 nama dan untuk mencontreng di 2 TPS. tapi karena sebagai warga negara yang baik, maka kami hanya menggunakan 1 hak suara kami aja. pertanyaan itu: mengapa bisa muncul 5 nama dalam daftar Pemilih Tetap itu. begitu juga yang siarkan melalui TV bhw ada anak kecil terdaftar dalam DPT, bagaimana bisa terjadi apakah petugasnya tidak melihat tgl lahir anaj tersebut. Jadi marilah kita hentikan semua masalah PILPRES 2009 Marilah kita menjadi warga negara yang baik dengan komitment pribadi kalau hak saya hanya satu yah saya hanya pakai satu. Jangan melebih-lebihkan dan janganlah menggunakan segala macam cara miring untuk mendapatkan sesuatu. Amin.
Saya mengatakan bahwa pemilu kali ini adalah pemilu terburuk sepanjang sejarah RI secara administratif. Tetapi, pelaksanaannya relatif berlangsung aman dan damai, namun tidak JURDIL dan LUBER. Hal ini dikotori oleh pihak KPU yang sangat2 tidak profesional. Setelah didesak, DPT yang belum terdaftar diizinkan memakai KTP, baru diputuskan 2 hari (bahkan kurang 2 x 24 jam). Bagaimana cukup waktu untuk mensosialisasikannya? Itu pun surat suara tidak ditambah. Bagaimana cukup untuk menampung DPT-DPT yang mendaftar dengan KTP? Sementara surat suara sudah dicetak berdasarkan jumlah DPT yang terdaftar di KPU. Padahal pemerintah mengeluarkan dana paling besar untuk pemilu kali ini (konon dana yang dikeluarkan pemerintah untuk pemilu adalah dana terbesar sepanjang pemerintahan RI). Kemudian, adanya indikasi bahwa KPU tidak independent dan di setir oleh asing.