Social Media & Kita

Tags: , , , , , ,

Foto oleh .faramarz

Akhir-akhir ini banyak berita seputaran Pemilu. Bukan hanya Pemilu di negara kita tapi juga Pemilu di negara-negara lain. Salah satunya adalah Pemilu di Iran yang berakhir kisruh. Masyarakat Iran merasa telah terjadi kecurangan dibalik terpilihnya kembali Ahmadinejad sebagai Presiden Iran mengalahkan Mousavi. Dibawah sikap represif pemerintah Iran, pihak-pihak diluar Iran sangat sulit untuk melihat dan mengikuti perkembangan yang terjadi selama masa protes. Maka mulailah perangkat social networking dipergunakan untuk menerobos segala bentuk kekangan. Masyarakat menggunakan Twitter, Facebook dan juga Youtube untuk menyiarkan apa yang terjadi di sana. Dan simpati mulai berdatangan dari segala penjuru dunia.

Social networking tool telah terbukti bisa menjadi alat distribusi informasi yang handal. Setiap orang bisa mengikuti apa yang terjadi dan juga ikut berperan didalamnya. Lalu apa yang bisa kita lakukan dengan Yahoo! Answers? Banyak yang belum tahu bahwa Yahoo! Answers bisa menjadi alat pengumpul opini yang cukup handal. Sebelumnya kita pernah lihat bagaimana teman-teman di Yahoo! Answers memberikan pendapatnya terhadap kasus Prita, ibu dua anak yang di gugat oleh RS. Omni karena menulis curhat di email dan tersebar kemana-mana (bisa dilihat di sini), lalu opini dari teman-teman juga tercermin dari banyaknya yang ikut partisipasi pada pertanyaan tentang pengaruh terpilihnya Obama terhadap negara kita (bisa dilihat disini). Ini menunjukkan bahwa Yahoo! Answers bisa menjadi alat yang handal untuk berbagi opini. Dan buat teman-teman yang profesinya membutuhkan pengumpulan opini (reporter, wartawan, periset, dll) saya pikir bisa melakukan hal yang serupa dan menggunakan Yahoo! Answers sebagai tool pengumpulan opini untuk mereka.

If you enjoyed this post, make sure you subscribe to my RSS feed!

Comments (17)

Add a comment
  1. good nihg

    Comment posted on June 22nd, 2009 at 8:34 pm by Wiwin SeLvia
  2. Ada juga fitur Yahoo! Groups.. :D
    Saat ini dunia internet berkembang begitu pesatnya, sehingga pertukaran informasi menjadi sangat cepat.

    Yup, saya sangat setuju dengan pemikiran Bung Gizmo yang menggunakan Yahoo! Answers sebagai alat untuk pengumpulan opini yang dapat digunakan untuk hal-hal baik..

    Salam,
    Steffie

    Comment posted on June 23rd, 2009 at 11:15 am by Steffie
  3. saya lagi cari tmn ngobrol yg asik banget

    Comment posted on June 23rd, 2009 at 3:01 pm by tya
  4. ya, setuju dengan social networking
    aspirasi masyarakat akan terwujud dengan pengumpulan opini, salah satu media melalui Yahoo! Answers
    tapi sayangnya tidak sedikit juga yang berselisih pendapat dan akhirnya ricuh di sana…

    Comment posted on June 26th, 2009 at 1:03 am by Rin gundam_fever
  5. Aku sedang mencari teman yang bisa berbagi………

    Comment posted on June 29th, 2009 at 6:32 pm by Ahmad
  6. dunia semakin canggih. kerna terlalu canggih nya sampe2 negara orang pun di urus.

    PIKIR BALIK. URUS DIRI DAN TETANGGA AJA DULU.gak usah mikir politik negara orang.

    Comment posted on July 1st, 2009 at 7:36 pm by Medan
  7. he….

    Comment posted on July 3rd, 2009 at 11:33 am by Supriyadi
  8. 10 ALASAN
    MENGAPA KITA BERPIHAK
    PEMILU SATU PUTARAN

    DEMI MASA DEPAN INDONESIA DAN
    PERCEPATAN ESTAFET KEPEMIMPINAN BANGSA
    SEKARANG ATAU BERLIKU-LIKU IBARAT KUTU

    Apabila Anda Bersetuju, Segera Sampaikan pada Sahabat Anda
    dan pada Mereka Yang Mendambakan Keberlanjutan Pembangunan
    Anda Berpacu dengan Waktu, 8 Juli 2009

    Apabila Anda Tidak Bersetuju
    Lupakan Saja, Tak Perlu Berkoar-koar Tak Menentu
    Anjing Menggonggong Kafilah tetap Berlalu
    Demi Indonesiaku

    Dalam Pemilu Presiden Indonesia 2009-2014 saya bukan pendukung siapa-siapa, tetapi saya adalah salah seorang anak bangsa yang sangat berpengharapan pemilu ini berjalan dengan sukses. Saya hanya salah satu dari sekian juta pemilih rasional di bumi Nusantara yang sama-sama kita cintai ini, dan satu-satunya alasan saya menulis pendapat ini adalah kehendak untuk memberi pertimbangan dan membuka wawasan saudara-saudara saya sebangsa dan setanah air dalam kerangka menentukan sikap terhadap Pemilu Presiden yang akan digelar pada Tanggal 8 Juli 2009. Saya merasakan betul betapa kesulitan ummat/publik kali ini dalam menentukan pilihannya karena berbagai alternatif yang disodorkan (3 pasangan capres dan cawapres) masing-masing memiliki keistimewaan dan kekurangan. Lebih-lebih lagi masyarakat secara terus-menerus setiap hari dibuai oleh berbagai tayangan iklan dan/atau kampanye yang dapat mengarah pada ketidakpastian dalam memilih, bahkan dapat membutakan mata hati dan pikiran mereka.
    Mengambil sikap abstain (golput) pada suatu pesta demokrasi (Pemilu) tentulah kurang bijaksana karena hak-hak dan kewajiban sebagai warga negara terabaikan. Posisi sebagai warga negara yang seharusnya proaktif memberikan sumbangsih kepada kehidupan demokratis dalam bernegara dan berbangsa menjadi tidak berkembang dan boleh jadi kita telah melakukan kesalahan dalam mengemban tanggungjawab sebagai bangsa dalam kehidupan kolektif/sosial. Untuk itu, sebaiknya kita mengembangkan sikap khusnudzon (berprasangka baik) terhadap semua calon pemimpin yang telah disiapkan untuk dipilih pada Pemilu mendatang. Hanya saja, siapa dari mereka yang paling berhak dan patut kita pilih perlu dicermati secara serius dan bijak.
    Salah satu cara bijak dan arif menentukan pilihan adalah dengan mencermati sejumlah kondisi dan kapasitas individual yang dimiliki oleh masing-masing calon, selain mencermati seberapa mungkin masing-masing calon tersebut bermaslahat dan bermanfaat (efektif dan efisien) serta berkarakter kenegarawanan bagi kehidupan berbangsa kelak. Untuk itu, berikut akan saya kemukakan sejumlah alasan rasional mengapa kita dengan “terpaksa” dan tulus ikhlas harus berpihak pada Pemilu Presiden 2009 berjalan satu putaran saja.

    Alasan Pertama yang perlu dicermati adalah biaya Pilpres pada Pemilu 2009 ini sebesar 13,5 Triliun atau Rp. 13.500.000.000.000,00 (tiga belas ribu lima ratus milyar rupiah). Perhatikan, nilai nominal uang tersebut adalah besaran angka dengan jumlah angka nol sebanyak dua-belas buah di belakang angka tiga-belas setengah, sungguh sangat fantastik dan luar biasa besar. Pertanyaan besarnya adalah: “Apakah biaya sebesar itu sebanding dengan apa yang dapat dihasilkan oleh Pemilu Presiden?” Memilih seorang pemimpin bangsa tidak harus berbiaya sedemikian besar ketika pada saat yang sama bangsa Indonesia masih berkutat dengan kehidupan rakyat yang masih dominan di bawah garis kemiskinan. 80% penduduk negeri ini masih terlunta-lunta dalam membiayai kehidupan sehari-harinya. Selanjutnya, jika kelak Pemilu Presiden ini berlangsung dua putaran karena tidak tercapai perolehan suara dominan, maka akan ada tambahan biaya Pemilu kedua yang jumlahnya mendekat pada biaya Pemilu putaran kesatu. Kalaulah hal ini terjadi, maka kembali kekayaan negara yang notabene bersumber dari kekayaan rakyat akan terkuras hanya untuk berlomba-lomba memilih pemimpin yang tidak pasti. Bayangkan, jika biaya pada putaran kedua kelak pelaksanaan Pemilu dianggarkan sebesar 10 Triliun saja atau Rp. 10.000.000.000.000,00 (sepuluh ribu milyar rupiah), maka biaya ini setara dengan distribusi kekayaan negara sebesar 1 Milyar atau sama dengan Rp. 1.000.000.000,00 (seribu juta rupiah) untuk 10.000 desa di seluruh Nusantara. Pertanyaan besar berikutnya adalah: “Adakah kita akan sia-siakan saja kekayaan negara yang begitu besar tersebut untuk membiayai suatu pesta “demokrasi” yang belum tentu melahirkan pemimpin masa depan yang lebih baik dan berkualitas?”. Daripada berspekulasi menemukan pemimpin baru, lebih bijak dan aman memilih pemimpin yang sudah berpengalaman dan terbukti telah mengarah pada upaya menyejahterakan rakyat dan berusaha sungguh-sungguh memberantas korupsi di negeri ini.

    Alasan Kedua yang sangat menarik adalah dukungan yang diberikan oleh sejumlah partai politik terhadap kelanjutan pemerintahan sekarang di bawah kepemimpinan SBY. Beberapa partai pemenang sepuluh besar Pemilu Legislatif 2009 seperti PKS, PPP, PAN, dan PKB lebih memilih bergabung (koalisi) dengan partai demokrat yang dibidani oleh SBY. Hal ini mengindikasikan bahwa para elite politik di Indonesia di luar dua kontestan besar partai pemenang Pemilu 2004 (Partai Golkar dan PDI Perjuangan) menaruh kepercayaan besar pada SBY untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan. Dengan kapasitas dan kompetensi yang telah terbukti, koalisi partai ini akan berusaha memenangkan calon presidennya. Ada isarat penting yang ingin disampaikan oleh elite politik kita yang sudah kenyang dengan hingar-bingar dunia perpolitikan di Indonesia adalah tidak perlu membuang-buang energi dan pikiran dengan sia-sia melalui Pemilu dua putaran, cukup dengan satu putaran saja. Para elite sudah sadar betul bahwa dengan putaran kedua sesungguhnya negeri ini akan menanggung rugi yang tidak kecil, dan hanya akan membuang-buang waktu saja. Selanjutnya, dapat diprediksi bahwa siapapun yang akan memimpin negeri ini untuk masa lima tahun ke depan akan sama saja, bahkan mungkin lebih buruk dan terpuruk. Oleh karena itu, sebaiknya kita berhemat energi dan lebih fokus pada upaya mengembangkan dan koreksi terhadap pemerintahan saat ini sehingga jaminan perolehan hasil pembangunan menjadi lebih pasti.

    Alasan Ketiga menyangkut logika slogan capres/cawapres yang bisa mengindikasikan kemungkinan ketercapaian cita-cita program bagi ketiga pasangan calon. Perhatikan rasionalisasi dari slogan-slogan berikut: (1) slogan pertama, menyangkut “perubahan dan pro-rakyat” yang diusung capres/cawapres pertama. Apakah mungkin “perubahan” dalam suatu sistem pemerintahan dapat tercapai dan efektif dalam satu masa kepemimpinan (5 tahun)?. Padahal, untuk suatu agenda perubahan dibutuhkan jangka waktu yang panjang dan dilakukan dengan terus-menerus. Apalagi dengan situasi Indonesia yang masih memerlukan berbagai pengembangan konsep dan jaminan keberlanjutan pembangunan. Bahkan seorang Presiden Suharto memerlukan enam kali masa jabatan (30 tahun) untuk menggoalkan “perubahan” yang diinginkannya meskipun pada akhirnya perubahan yang dirancangnya “hangus” tanpa meninggalkan kebanggaan bagi bangsanya; (2) Selanjutnya, slogan mengenai “lebih cepat dan lebih baik” yang diusung oleh salah satu capres/cawapres mengindikasikan target pembangunan yang tidak menentu karena tidak ada basis pengalaman sebelumnya untuk diarahkan pada sesuatu pencapaian atau target pembangunan yang lebih cepat dan lebih baik. Ini berarti slogan tersebut sekedar mengada-ada tanpa kejelasan arah yang ingin dicapai. Karena itu bersifat rancu, sumir dan tidak fundamental; (3) Berbeda dengan dua slogan sebelumnya, slogan “lanjutkan” bermakna lebih rasional dan mengedepankan bukti perbuatan sebelumnya. Karena itu, kata “lanjutkan” tidak mengandung unsur ketidakpastian karena didukung oleh pengalaman. Apalagi dengan menambahkan kata-kata penjelasan akan melakukan koreksi dan introspeksi terhadap pengalaman terdahulu yang dirasakan belum menunjukkan kinerja yang baik dan maksimal. Jadi, dari segi bahasa dan terminologi yang digunakan, kata “lanjutkan” yang diusung oleh capres/cawapres SBY-Boediono adalah paling rasional dan logis dicapai. Terlebih lagi, kedua slogan yang diusung oleh capres/cawapres lainnya sudah terkandung dalam slogan “lanjutkan pembangunan” dalam arti koreksi yang dilakukan terhadap hasil-hasil pembangunan sebelumnya akan dilakukan melalui “perubahan” secara “lebih cepat dan lebih baik” dengan tetap mengedepankan semboyan “pro-rakyat”.

    Alasan Ke-empat menyangkut obral janji capres/cawapres yang tidak berdasar dan cenderung “mengelabui” rakyat. Dari ketiga calon capres/cawapres yang ada, tampaknya pasangan SBY-Boediono merupakan calon yang paling tidak gampang mengumbar janji. Terlalu banyak contoh para elite politik hanya memanfaatkan janji-janji sebagai strategi untuk mengambil “keluguan” hati rakyat. Saya kira, karakter SBY-Boediono yang sangat santun dalam berpolitik menunjukkan jati diri orang yang benar-benar dewasa dan matang dalam memberikan pandangan ke depan bagi bangsanya. Hanyalah pasangan ini yang mengatakan akan berkerja keras apabila dipercaya oleh rakyat untuk kembali menjadi presiden. “Kerja keras” adalah paduan kata yang paling pas dan elegan untuk dikumandangkan hari-hari ini, yaitu hari-hari dengan mana Indonesia akan menemukan kembali jati dirinya. Mengingat kita memang masih terpuruk hampir dalam segala aspek kehidupan dan tidak mampu bersaing di tingkat global, maka satu-satunya tekad yang paling mungkin dilakukan adalah “kerja keras”, ketimbang mengumbar janji-janji yang mengarah pada kebohongan publik. Ibarat mobil mogok, pada awalnya sopir dengan rendah hati memohon bantuan agar ramai-ramai untuk mendorong mobilnya. Namun ketika mobil telah hidup, sang sopir melaju meninggalkan para pendorongnya tanpa memberikan apapun atas jasa para pendorong tersebut, sopir lupa diri bahwa mobilnya hidup akibat bantuan orang lain. Demikianlah para pengobral janji, lupa kacang akan kulitnya, karena memang mereka tidak punya komitmen atas janjinya, dan memang mereka bukan dilahirkan untuk memimpin bangsa yang sangat majemuk ini.

    Alasan Kelima menyangkut kelebihan/keunggulan SBY sebagai calon presiden incumben dibantu Boediono yang sarat pengalaman dalam berbagai periode pemerintahan. Pasangan ini merupakan capres/cawapres yang paling menjanjikan masa depan Indonesia yang cemerlang dan bermartabat di hadapan bangsa-bangsa lain. Semenjak lengsernya Pak Harto di tahun 1998 telah terjadi pergantian pucuk pimpinan negara, mulai dari Habibie, Abdurachman Wahid, Megawati, sampai ke SBY. Pada kenyataannya, hanya SBY yang mampu bertahan menjadi presiden yang kuat dan didukung oleh rakyat selama masa jabatannya. Kalaupun Megawati boleh beralasan bahwa dia merupakan presiden yang hanya berkuasa setengah periode akibat dilengserkannya Gusdur dari Istana Merdeka, namun kenyataannya ketika bersaing dengan SBY dalam putaran kedua Pemilu Presiden 2004 dia kalah telak. Ini membuktikan bahwa SBY memang murni pilihan rakyat, sedangkan yang lainnya belum mengakar di hati nurani rakyat Indonesia. Karena itu, lebih baik memilih yang lebih pasti dengan ditunjang oleh pengalaman memerintah pada periode sebelumnya, dan perlu diperhatikan juga bahwa pada masa memerintah ybs tidak pernah melakukan tindakan tercela. Untuk menyaingi keunggulan SBY ini, ada pula sebahagian elite yang coba menghembuskan keunggulan capres lain dengan mengusung kemampuan mengelola ekonomi negara yang dilatari oleh pengalaman mengelola perusahan swasta pada level nasional bahkan global. Mereka mengatakan bahwa calon pemimpin negara haruslah sosok yang mumpuni dalam sektor “dagang-berdagang” atau paling tidak pernah mengecap dunia riel ekonomi masyarakat. Sekaitan dengan pernyatan tersebut, pada tempatnya dikemukakan bahwa tidak ada jaminan (sekali lagi: tidak ada jaminan) pedagang atau saudagar swasta (konglomerat) akan lebih baik dalam mengelola ekonomi negara.
    Pada pasal ini yang diperlukan adalah “sense of enterpreunership” sehingga seseorang mampu merasakan apa yang diinginkan dan diperlukan dalam pengembangn dunia usaha dan ekonomi bangsa, bukan semata-mata karena dia berpengalaman mengurus dunia bisnis. Sebagai bukti bahwa konglomerat tidak sebaik atau seunggul anak bangsa lainnya adalah fakta bahwa dunia usaha kita tidak bebas, bahkan selalu, ditingkahi oleh tindak manipulasi, suap/sogok, uang semir, komisi, dll yang sangat merusak mental bangsa karena menghalalkan segala macam cara dalam upaya meraih keuntungan berjibun. Bahkan tidak jarang mereka yang berlatar belakang “pedagang” justeru terjebak dalam dualisme kepentingan antara kebutuhan melindungi ekonomi bangsa dengan pengembangan bisnis pribadi dan golongannya, mereka secara tidak sadar telah melakukan tindak vested interested. Tentu hal tersebut tidak terkecuali bagi capres/cawapres yang mengaku-aku bahwa dirinya terbaik dalam mengelola ekonomi bangsa karena berlatar belakang saudagar. Sekali lagi diingatkan, bahwa meneruskan “perjuangan” dalam pembangunan yang sudah direncanakan dengan matang adalah jauh lebih ringan dan menjanjikan keberhasilan daripada memulai sesuatu yang baru dan meragukan. Jangan coba-coba melakukan eksperimen “kepemimpinan bangsa” sekecil apapun terhadap negara yang begitu besar seperti Indonesia kalau tidak mau menjadi keledai yang terantuk dua kali.

    Alasan Ke-enam menyangkut “kebersihan” diri masing-masing pasangan terkait dengan peristiwa masa lalu yang sangat menentukan nasib masa depan bangsa. Banyak peristiwa/insiden bertaraf nasional yang melatar-belakangi perkembangan kontemporer Indonesia. Salah satu yang paling mengemuka adalah peristiwa Mei 1998 dengan sisi gelap masalah pelanggaran HAM berat dari sejumlah oknum yang sampai saat ini belum dapat diungkap tuntas. Harap jangan lupa, peristiwa ini adalah sejarah kelam bangsa Indonesia ketika hampir semua hasil perjuangan anak bangsa dipertaruhkan. Bayangkan, hampir-hampir kita terguling di jurang perpecahan dan kehancuran kebinekatunggalikaan NKRI. Pada ketika itu, SBY belum terlibat secara kental dalam percaturan politik para elite, dia lebih terlihat sebagai loyalis atas tugas-tugas kenegaraan yang diamanahkan padanya dan lebih bertindak sebagai orang luar garis tapi proaktif menyumbangkan pemikiran-pemikiran kritisnya. Karena itu, SBY relatif tidak bersentuhan langsung dengan peristiwa tersebut, dengan kata lain termasuk kategori elite yang bersih. Hal ini berbeda dengan pasangan-pasangan calon yang ikut maju dalam Pemilu capres/cawapres 2009. Katakanlah sosok Wiranto dan Prabowo yang masih menyisakan kontroversi mengenai keterlibatannya dalam peristiwa Mei 1998, tidak saja menyangkut pelanggaran HAM berat, tetapi juga terhadap berbagai isu negatif tentang rencana “penggulingan” pemerintahan yang sah dikala itu. Terhadap peristiwa tersebut tentu akan mendatangkan tekanan psykologis tersendiri bagi mereka yang terlibat, baik langsung maupun tak langsung. Jika sekarang mereka yang berstatus “abu-abu” dalam peristiwa Mei 1998 berjuang untuk dapat menjadi penguasa (dengan segala pertaruhan money politicknya) tentu akan muncul pertanyaan: “Adakah ini sebuah strategi untuk menghapus cacat diri di masa lalu?” Dan untuk para calon pemilih Pemilu Presiden 2009, pertanyaannya adalah: “Apakah Anda akan meragukan sosok yang relatif bersih atau meragukan sosok yang diisukan terlibat dalam kasus-kasus besar pergerakan dan perjuangan bangsa?”

    Alasan Ketujuh menyangkut dukung-mendukung dari berbagai organisasi masyarakat terhadap salah satu capres/cawapres, bahkan lebih dari itu dikesankan didukung oleh para tokoh masyarakat atau tokoh agama tertentu yang memiliki basis massa cukup besar. Ada hal yang rancu dan “abu-abu” dalam dukungan tersebut, yaitu kontradiktif antara dukungan politik partai dengan basis masa yang sama dengan basis massa Ormas. Ambil contoh, PKB dengan basis massa kaum Nahdiyin yang sama dengan Ormas NU, namun keduanya berbeda dalam dukungan terhadap pasangan calon. Demikian juga dengan PAN yang lahir dari basis massa kaum Muhammadien yang sama dengan basis massa Ormas Muhammadiyah. Ini menandakan bahwa dukungan yang diberikan Ormas atau tokoh-tokoh panutan tidak sepenuhnya mewajibkan basis massanya untuk loyal terhadap arah kebijakan institusi. Karena itu, massa dari manapun asal-usulnya tidak “haram” memilih pasangan calon yang manapun menurut pertimbangan dan keyakinan dirinya. Terkait dengan hal tersebut, sah-sah saja masing-masing individu menentukan hak pilihnya dan dapat mengarahkan pilihannya atas pertimbangan efisiensi dan keberpihakan pada Pemilu satu putaran saja. Karena itu, daripada berlelah-lelah menafsirkan pendapat partai atau tokoh sehingga boleh jadi berpotensi terjadinya konflik internal dalam “perebutan” massa, maka lebih tepat berlomba-lomba berpihak pada pilihan calon yang lebih menjamin kepastian masa depan bangsa. Tentu ada kekhawatiran jika secara tidak sadar kita telah berlomba-lomba mendukung calon pemimpin yang memanfaatkan keluguan kita untuk saling berpecah-belah, kita juga tidak sadar bahwa mengubah/menggantikan pemimpin bangsa saat ini sangat riskan atas kemungkinan berlanjutnya pembangunan yang stabil dan aman. Kemungkinan terbesar atas adanya stabilitas politik dan keamanan akan lebih pasti di bawah kepemimpinan SBY karena hanya SBY yang paling berpeluang mendapat dukungan mayoritas di parlemen (legislatif), di samping dukungan langsung masyarakat umum.

    Alasan Ke-delapan menyangkut keberadaan tiga pasangan calon yang kesemuanya beragama Islam dan dalam performance mereka mengejawantahkan sosok Muslim yang baik. Dalam kaitan ini banyak yang mencoba menilai keislaman mereka dengan mengedepankan simbol-simbol keberislaman seperti latar belakang kesantrian dan asal-usul keturunannya. Yang lebih detail lagi menyoroti isteri-isteri mereka terkait dengan penggunaan jilbab dan asesori keislaman lainnya. Kalau simbol-simbol ini menjadi bahan perbincangan atau perdebatan, maka boleh jadi kita sedang memperbincangkan keberislaman seseorang dari sisi pandang yang paling bersifat inderawi atau fisik belaka. Apa artinya simbol-simbol kalau pada akhirnya kita menyaksikan saudara-saudara muslim kita yang notabene “bersorban tiga lapis” lalu melakukan tindakan yang amat tercela seperti korupsi, manipulasi jabatan, memanfaatkan ilmu Islam untuk meraih kesenangan duniawi (ulama syu’), dan berbagai kelakuan negatif lain yang tidak baik diungkap disini. Jadi, secara subsatnsial simbol-simbol tersebut dapat mengelabui kita dari inti keberislaman yang lebih mendasar yaitu nilai-nilai aqidah dan ketauhuhidan yang lebih mungkin dikenali dari tindak-tanduk dan karakter seseorang. Apalagi jika dikaitkan dengan sentimen “keturunan” yang dibesar-besarkan, sungguh merupakan pendangkalan terhadap nilai-nilai hakiki penciptaan Allah atas tiap-tiap individu manusia yang dijamin hanya dapat berbeda di sisi Allah SWT hanya karena nilai ketaqwaannya saja. Terhadap cara pandang ini, yang terpenting dari performance yang dibutuhkan adalah “kecukupan dan kewajaran” seseorang dalam mengindikasikan dirinya sebagai sosok Muslim yang baik. Namun demikian, kita sepakat bahwa kelak secara perlahan dan pasti harapan ummat untuk menyaksikan simbol-simbol keberislaman pada para pemimpin kita seharusnya diperhatikan. Sebagai referensi perlu dikedepankan bahwa pribadi sekaliber Prof. Azyumardi Azra (mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah) saja berkenan memberikan komentar agar tidak perlu membawa-bawa isu agama dalam Pemilu kali ini karena semua pasangan calon adalah orang-orang Muslim yang relatif baik. Kemudian dalam Al-Quran juga diperingatkan dengan sindiran: “Janganlah satu kaum mengejek-ejek atau memperolok-olok satu kaum lainnya karena boleh jadi yang diejek-ejek itu lebih baik daripada yang mengejek-ejek”. Sungguh Al-Quran sangat bijak dalam pernyataan tersebut, yakni tidak menyudutkan mereka yang mengejek-ejek, tapi memberikan peringatan dengan pencerahan yang halus melalui nilai kebaikan yang boleh jadi dimiliki oleh orang yang diejek-ejek.
    Untuk melengkapi pandangan ini, kepada teman-teman non-Islam perlu disampaikan bahwa Anda semua tidak perlu khawatir atas tampuk kepemimpinan negara di Indonesia yang selalu masih dilakoni oleh individu yang berlatar belakang Islam. Percayalah, Islam tidak lahir dan besar untuk menyingkirkan dengan sadis dan kejam saudara-saudara mereka yang non-Islam. Islam muncul di muka bumi ini sebagai Rahmatan-lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam) yang mengajak manusia kepada kebenaran sejati. Tugas pemimpin-pemimpin Islam terkait dengan keyakinan keberagamaan hanyalah “memperingati” agar manusia mendapatkan arah atas kebenaran keyakinannya. Apabila Anda menyaksikan adanya orang-orang yang mengaku Islam melakukan tindak teror tanpa toleransi terhadap kehidupan bersama di bumi, mereka hanyalah oknum-oknum yang belum memahami secara menyeluruh (kaffah) tentang Islam. Jadi perlu memahami Islam sebagai Agama dan pemeluk-pemeluk Islam (orang-perorang) yang boleh jadi belum mengenal hakekat keislaman. Islam di Indonesia dengan pemeluk-pemeluknya dikenal sebagai Islam moderat, Islam yang menunjukkan bukti-bukti bertoleransi tinggi terhadap pluralitas dan dalam kehidupan keseharian mampu mengembangkan pergaulan yang bersahabat terhadap teman-teman di luar keyakinannya. Jadi tibak perlu phobi, ragu atau “ketakutan” terhadap para pemimpin Islam di Indonesia. Karena itu, mempertahankan kondisi yang sudah berjalan dengan baik di tanah air tercinta ini dengan kepemimpinan yang telah berpengalaman dan matang dalam memandang kemajemukan bangsa merupakkan tindakan bijak dan sangat arif dari semua komponen bangsa dan masyarakat/rakyat Indonesia.

    Alasan Kesembilan menyangkut kerelatifan dan keterbatasan setiap individu sebagai manusia biasa: “tidak ada gading yang tak retak”. SBY-Boediono pastilah juga sebagai manusia biasa memiliki kekurangan dan keterbatasan, tetapi dibanding dengan calon lainnya tampaknya pasangan ini masih lebih unggul satu tingkat. Hal ini dapat dicermati dari performance sbb: santun dan memegang teguh rasa keindonesiaan; punya karakter kebapakan dan termasuk penyabar; mampu berpikir dan bertindak konseptual, sistimatis dan tenang menghadapi kritik; merupakan pekerja keras dan pemikir yang telah terlatih sejak masa muda; memiliki tingkat toleransi dan empati yang tinggi pada orang lain; mampu berbahasa Indonesia dengan fasih dan sangat baik serta sanggup berkomunikasi dengan bahasa internasional (Inggris) secara langsung (face to face) dengan pemimpin dunia lainnya. Last but not least, figur fisik (postur) calon presiden ini paling mengesankan kegagahan asli Indonesia yang layak bersanding setara dengan figur fisik para pemimpin di dunia Barat. Jadi, bolehlah ada kebanggaan dari seluruh anak bangsa ketika menyaksikan para pemimpin negara-negara di dunia saling berdampingan “hand to hand” dan duduk sebanding satu sama lain.

    Alasan Kesepuluh menyangkut estafet kepemimpinan bangsa. Harapan generasi penerus bangsa yang paling pasti dan tidak ada keragu-raguan lagi adalah tumpuan pada kepemimpinan kedua kali bagi SBY. Berdasarkan peraturan perundang-undangan, SBY harus menyerahkan tongkat kepemimpinan bangsa pada akhir masa jabatan keduanya, dan inilah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh para generasi penerus Indonesia berjaya. SBY akan membuat sejarah perpindahan (hijrah) dari generasi 1966 (enam-enam) kepada generasi abad 21 karena memang kehendak alamiah dan kehendak masa depan pergulatan kebangsaan Indonesia. Apabila Anda masih bermimpi bahwa calon capres/cawapres lain juga dapat melakukan hal yang sama jika mereka terpilih, maka lupakan saja. Fakta sejarah membuktikan tidak ada pemimpin yang tidak berkehendak memimpin atau berkuasa untuk kedua kalinya, bahkan bila perlu sampai akhir hayatnya. Atas berbagai alasan mereka mencoba mempertahankan kekuasaannya, demikian juga yang akan berlaku bagi capres/cawapres selain incumben. Tidak ada jaminan pemimpin terpilih pada Pemilu Presiden 2009 ini akan rela melepas kekuasaanya kelak di tahun 2014 kecuali pasangan calon SBY-Boediono. Karena itu, pilihan kepada selain calon yang memiliki kepastian dalam melakukan estafet kepemimpinan bangsa berpotensi menghambat putaran alamiah kepemimpinan masa depan Indonesia.

    Penutup; demikian sepuluh alasan yang perlu dikemukakan terkait dengan keberpihakan kita terhadap Pemilu Presiden 2009 agar dapat berlangsung satu putaran saja. Apa yang disampaikan ini merupakan butir-butir pendapat untuk membuka wawasan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Janganlah terjadi rakyat memilih tanpa ekspresi dan pemahaman yang jelas terhadap calon-calon pemimpinnya. Tugas kita hanya memberi saran dan pendapat atas berbagai kondisi dan situasi yang berkembang.
    Wallahu’alam bissawab, hanya Allah SWT yang berhak menentukan kepada siapa Rahmat-Nya akan diturunkan dan kepada siapa pengelolaan bumi ini dititipkan. Kepada umat Islam, dalam memilih dan menentukan sikap, lakukanlah dengan melaksanakan istiharah terlebih dahulu, jangan terpaku dan terombang-ambing oleh janji-janji kosong yang menggiurkan, selamat menggunakan hak pilih dengan tepat dan benar.

    Dalam renungan
    Kubayangkan, tak ada kerugian besar buat bangsaku
    Juga perbuatan sia-sia yang menguras energi
    Juga kesalahan kedua kali seperti keledai
    Juga terbuai oleh mimpi-mimpi semu
    tapi
    Allah jua sang penentu
    Kepada siapa Dia menurunkan Rahmat-Nya

    Juni 2009

    Comment posted on July 4th, 2009 at 8:07 am by Muhammad Zulfikar
  9. Era social networking, menurutku bisa dijadikan ajang memperkeruh suasana juga bisa dijadikan alat peluang propaganda suatu mìsi tertentu seseorang yg terselubung.contohnya kebebasan, menjelek2an ras,agama,suku,politik.
    ada sisi positif
    ada juga sisi negatifnya.

    Comment posted on July 6th, 2009 at 1:41 pm by Social network
  10. tulisan yg bagus

    Comment posted on July 6th, 2009 at 10:47 pm by rio
  11. tidak ada masalah kalau tidak dicari…Ada masalahpun tidak diselesaikan pada proporsi yang benar yang jelas apapun bentuknya itu jika tetap mengedepankan persatuan nusantara karena kebinekaannya…saya, anda dan kita semua yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa pemimpin bangsa yang terpilih dalam pemilu 2009 adalah merupakan KEDAULATAN RAKYAT INDONESIA YANG HARUS KITA JUNJUNG TINGGI.

    Comment posted on July 13th, 2009 at 2:27 pm by raditya
  12. mau ga mau dunia ini mengarah kepada suatu media baru dalam bersosialisasi, apapun itu.

    Comment posted on July 30th, 2009 at 2:28 pm by hendra
  13. wew

    Comment posted on August 4th, 2009 at 7:23 pm by sapi
  14. sosial dalam kehipan memang perlu agar kita mengetahui atau sebagai simpanan kita dan tanggungjawab kita kelak kita dipanggil yang maha Esa

    Comment posted on August 22nd, 2009 at 11:04 pm by salin
  15. sEBnR_a bNGsa Qta ne mRupakn bngsa yg mEmilKi jIwa kEDaulatn n PerSatUan yg Bsar.
    Hal INi bS QTa LHT dRI pERJUanGN BnGSA QTA pd SAat Di jA2h olEh BNgsa BLanda,SMANGT_A pun BSR sEHingga NEgARa QTa bS bEbas DR AnCMn PenJa2hn.
    Mk JikA dIdLm PEmilHN Umum,AdA baiK_A tDK mENGedepnkN MaTEri,TetaPI MeaNGedePnkn SemngT pAHlwn QTA dGN mENepti APa yg TLh DiUcpkn!

    Comment posted on September 7th, 2009 at 1:06 pm by sari
  16. jangan mengedepankan uang dalam pemlu,krn jika uang jadi landasan mak akhirnya pemenang pemilu akan mencari uang sebanyak2nya. salam dari bang utri

    Comment posted on November 7th, 2009 at 12:02 pm by utrianto
  17. saya juga mau menjadi pejabat tapi saya tak suka janji janji palsu yang dilontarkan pejabat2 negara, tapi tak kunjung terealisasi

    Comment posted on November 7th, 2009 at 12:06 pm by utrianto

Post Comment

required
required, hidden